Hari mulai petang, matahari perlahan hilang di balik awan. Kami duduk di tepi jalan lintas Pineleng-Kawangkoan Sulawesi Utara. Beberapa diantara kami berdiri sambil mengacungkan tangan kearah mobil-mobil bak terbuka, berharap kebaikan hati para supir agar sudi memuat kami di mobil mereka. Kamis (6/8) saya bersama beberapa teman melakukan trip pendakian ke Gunung Soputan. Perjalanan pergi dilakukan dengan cara ‘ba-DO’ alias Dola Oto, atau dalam bahasa lain ‘gandolan’ atau ‘nebeng’ (menumpang).

Setelah menunggu sekitar 15 menit akhirnya sebuah mobil pick-up hitam menepi dan bersedia mengangkut kami. Beruntungnya mobil yang mengangkut kami memang menuju ke Kawangkoan. Sebuah kota kecil yang cukup dekat dengan desa Pinabetengan yang merupakan lokasi start jalur pendakian kami.

Gunung Soputan merupakan salah satu gunung api aktif di Sulawesi Utara. Gunung dengan ketinggian 1.784 Mdpl ini merupakan salah satu destinasi pendakian yang cukup dikenal oleh para pecinta alam di Sulut. Secara geografis Gunung Soputan terletak di wilayah kecamatan Tompaso, Kabupaten Minahasa Tenggara dan termasuk salah satu gunung api teraktif di Sulut selain Gunung Lokon (baca: Nuansa Kemerdekaan di Gunung Soputan)

Namun dibalik ‘gahar’-nya, Gunung Soputan menyimpan keindahan bisu bagi mereka yang ingin menjejakkan kaki di setiap incinya. Ada beberapa jalur pendakian yang bisa diakses untuk menuju ke puncak. Diantara beberapa jalur, kami memilih untuk naik melalui desa Pinabetengan kecamatan Tompaso.

Kurang lebih pukul 20.00 WITA kami tiba di Kawangkoan. Kami turun tepat di pertigaan tugu kacang. Setelah mengucapkan terimakasih kepada pak supir yang baik hati, kamipun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Masih beberapa kilometer lagi menuju desa Pinabetengan.

Langkah kaki kami terasa sedikit berat karena angin malam yang cukup kencang. Perjalanan menuju desa Pinabetengan kami lanjutkan dengan berjalan kaki karena tidak mendapatkan mobil tumpangan. Karena jarak yang cukup jauh, waktu tempuhpun semakin panjang. Pukul 22.00 WITA kami tiba di desa Pinabetengan. Kami memutuskan untuk singgah sejenak di sebuah warung untuk membeli air dan sedikit tambahan logistik untuk pendakian. Seorang lelaki paruh baya pemilik warung sempat bercengkerama sejenak dengan kami.

“Ngoni musti hati-hati, tambah le nae malam, tu lalu ada dua remaja da ilang karena da nae nda hafal jalur, lantaran tapisah sto deng tamang-tamang laeng “ (kalian harus berhati-hati apalagi mendaki malam. Beberapa waktu lalu sempat ada pendaki hilang karena terpisah dari regunya) Pesannya.

Setelah istirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan. Saat memasuki wilayah awal jalur pendakian, kami di suguhkan pilihan antara ‘jalan roda’ dan jalur ‘patah hati’. Perbedaan keduanya adalah jarak tempuh dan tingkat kesulitan. Kami akhirnya memutuskan untuk ikut jalur ‘patah hati’ yang cukup sulit namun jarak tempuh yang tidak begitu jauh.

Pendakian dari bawah hingga pinus 1 oleh kami memakan waktu kurang lebih 5 jam, dengan beberapa kali istirahat karena beberapa dari kami tidak terbiasa mendaki. Kemiringan yang cukup curam dengan cuaca yang lumayan ekstrim menambah lama durasi pendakian.

Saat hampir sampai di puncak kabut tebal dan angin kencang cukup menyulitkan kami. Kurang lebih pukul 03.30 WITA kami sampai di hutan pinus yang menjadi lokasi Camping ground. Selamat datang di Gunung Soputan!.

Cuaca di atas semakin dingin. Pohon dan dedaunan berdesir keras diterpa angin kencang. Kabut tebal terlihat memeluk erat cortex pinus yang kokoh. Walaupun dalam cuaca ekstrim kami masih bisa menikmati suasana diatas. Kami bisa merasakan pepohonan menyapa garang, dan dedaunan melambai isyaratkan untaian kalimat selamat datang.

Tidak hanya kami, ada beberapa orang dan kelompok pecinta alam yang juga sudah ada disana. Beberapa tenda berdiri di bawah batang-batang pinus Soputan. Seusai mendirikan tenda kami memutuskan untuk tidur. Keesokan harinya keindahan hutan pinus terlihat semakin jelas. Kabut tipis yang turun menambah efek mempesona mahakarya alam ini.

“Sempurna”. Kata pertama yang keluar dari bibir saya saat mendongakkan kepala dari tenda.

Pinus 2 di Gunung Soputan
Suasana pagi hari di Pinus Soputan, Foto: Alan

Koor dari fauna penghuni hutan pinus mengalun indah di sekitaran tenda kami. Nyanyian merdu yang tak akan kami temui di kampus dan tempat lain di kota. Dinginnya udara tidak menghambat kami untuk berkeliling sekedar mengabadikan gambar-gambar cantik di hutan yang apik.

Ketika Mentari Menembus Dedaunan Pinus Soputan

Wilayah hutan Pinus Soputan merupakan tempat yang cukup mengasyikkan untuk camping ground. Selain karena keindahan pohonya, adanya space yang cukup luas antar pohon memungkinkan tenda berdiri dengan baik. Akses air pun mudah didapat dari sini. Hanya dengan turun sejauh kurang lebih 20 meter akan dengan mudah menemukan pancuran air dari sungai kecil. Karena merupakan gunung api aktif, tidak semua air di aliran sungai gunung soputan dapat diminum, karena ada beberapa tempat yang airnya memiliki kandungan belerang yang cukup tinggi.

Di Pemandangan Gunung Soputan
Foto: Alan

Hari terakhir di Soputan kami menyempatkan pergi ke spot panorama. Perjalanan menuju kesini membutuhkan waktu kurang lebih 15 hingga 30 menit bagi sebagian kami yang notabene-nya bukan pendaki profesional. Sayangnya kami tidak sempat naik sampai ke gunung anak, karena waktu tempuh yang lumayan panjang mengingat hari itu juga kami harus segera turun. Namun kami cukup puas dengan hanya berjalan-jalan di hutan pinus soputan, merasakan hembusan angin, belaian kabut, mendengarkan desir dedaunan, menikmati terang ribuan bintang di pucuk pinus dan nyanyian indah hewan nocturnal di hutan Soputan.

Sabtu (8/8) pukul 14.00 WITA sehabis makan siang kami memutuskan untuk turun. Mengucapkan selamat tinggal kepada gugusan pinus kokoh yang daunnya melambai seakan mengisyaratkan kode perpisahan. Perjalanan turun terasa lebih cepat. Kami memutuskan singgah sejenak di warung kecil di bawah yang juga masih termasuk wilayah gunung soputan. Seorang lelaki tua yang akrab disapa Om No’ menyambut kami dengan sebotol besar saguer buatannya. Menikmati saguer segar dan keindahan alam Gunung Soputan menjadi penutup perjalanan kami kali ini.

Hutan Pinus Gunung Soputan
Foto: Alan

Bagi Anda yang tertarik merasakan keindahan alam Gunung Soputan silahkan mencoba. Bagi yang awam bawalah teman yang juga bisa menjadi penunjuk dan hafal jalur. Bawalah logistik yang cukup. Jangan merusak ranting, pohon, rumput, dan isi hutan lainnya. Jangan boker di jalur pendakian dan yang tak kalah pentinnyajangan tinggalkan sampah Anda di atas! Tertarik menaklukkan Gunung Soputan?

 

LEAVE A REPLY